"Ketika Abu Thalib menjelang kematian, Rasulullah saw. datang menemuinya. Ternyata di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai pamanku, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah, ucapan yang dapat kujadikan saksi terhadapmu di sisi Allah. Tetapi Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata: Hai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib? Rasulullah saw. terus-menerus menawarkan kalimat tersebut dan mengulang-ulang ucapan itu kepada Abu Thalib, sampai ia mengatakan ucapan terakhir kepada mereka, bahwa ia tetap pada agama Abdul Muthalib dan tidak mau mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sungguh, demi Allah, aku pasti akan memintakan ampunan buatmu, selama aku tidak dilarang melakukan hal itu untukmu. Kemudian Allah Taala menurunkan firman-Nya: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat mereka, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim. Dan mengenai Abu Thalib, Allah Taala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk "
HR. Musayyab bin Hazn ra
Rabu, 03 Februari 2010
Ahlusunnah memberikan wala' (loyalitas) yang mutlak (sepenuhnya) kepada Allah SWT
1. Ahlussunnah memberikan wala’ (loyalitas) yang mutlak (sepenuhnya) kepada Alloh Subhanahu wa Ta`ala dan Rosul-Nya Shallallohu `alaihi wa sallam. Memberikan wala’ yang mutlak kepada kaum muslimin dalam jihad mereka melawan kuffar dan munafiqin.
Wala` kepada pribadi-pribadi muslim berbeda ka pasitasnya dari suatu pribadi muslim dengan muslim lainnya menurut ketaqwaan dan jauh-dekatnya pribadi-pribadi itu dari manhajul haq.
Wala` kepada seorang pribadi muslim bisa ter campurkan dengan baro’ nisbi menurut bobot ma`siatnya serta jauhnya dari manhaj yang haq. Ahlussunnah berbaro' (melepaskan diri) mutlak dari kuffar dan kekufuran.
Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الإِيْمَانِ اَلْحُبُّ فِى اللهِ وَالْبُغْضُ فِى اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh”.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang ber-iman kepada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menen-tang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya.
Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridho terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itu-lah golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguh-nya golongan Alloh itulah golongan yang beruntung.” {QS. Al Mujadilah [58]: 22}
Footenote:
Baca kitab “Al Madkhol Li Dirosat Al `Aqidah Al Islamiyyah”, Dr. Ibrohim Muhammad Al Buraikan : 224-228
(HR. Ahmad, 4/286; Al Hakim dalam Al Mustadrok, 2/480 dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shohihah, 1728)
(Manhaj Ahlussunnah Wal Jama'ah Hal: 56)
Wala` kepada pribadi-pribadi muslim berbeda ka pasitasnya dari suatu pribadi muslim dengan muslim lainnya menurut ketaqwaan dan jauh-dekatnya pribadi-pribadi itu dari manhajul haq.
Wala` kepada seorang pribadi muslim bisa ter campurkan dengan baro’ nisbi menurut bobot ma`siatnya serta jauhnya dari manhaj yang haq. Ahlussunnah berbaro' (melepaskan diri) mutlak dari kuffar dan kekufuran.
Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الإِيْمَانِ اَلْحُبُّ فِى اللهِ وَالْبُغْضُ فِى اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh”.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang ber-iman kepada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menen-tang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya.
Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridho terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itu-lah golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguh-nya golongan Alloh itulah golongan yang beruntung.” {QS. Al Mujadilah [58]: 22}
Footenote:
Baca kitab “Al Madkhol Li Dirosat Al `Aqidah Al Islamiyyah”, Dr. Ibrohim Muhammad Al Buraikan : 224-228
(HR. Ahmad, 4/286; Al Hakim dalam Al Mustadrok, 2/480 dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shohihah, 1728)
(Manhaj Ahlussunnah Wal Jama'ah Hal: 56)
Langganan:
Postingan (Atom)

